Cerita Taaruf dengan Abi part 1

by - Oktober 01, 2019



Siang hari yang sejuk di dalam call box, di sela break siaran ummik membaca-baca whatsapp yang masuk ke hengpong jadul dan jeng jeeeeng sebuat pesan mengejutkan datang, dari mbak Endri kawan ummik.  Ummik lupa kata-katanya tapi yang jelas beliau mengabarkan ada seseorang yang tertarik dengan proposal ummik. Langsung lah jantung ini loncat- loncat. Beneran? Siaran jadi buyar, pening kepala, tapi pening bahagia, banyak pertanyaan yang tiba-tiba muncul, tapi pertanyaan utama adalah, siapa dia?

Ummik harus bersabar karena saat itu murobi ummik sedang ke Bali, sehingga tertundalah ummik tahu tentang abi. Tapi ummik dapat bocoran nama dan tempat kerjanya. Insting detektif ummik pun bergejolak. Ummik kerahkan seluruh kemampuan analisis sosmed. Mulai dari ketik namamya, ketik nama asramanya, ubek-ubek foto, scroll IG asrama dari paling atas sampai paling bawah. Super NIHIL. Tidak ada tanda jodoh ummik di sana. Ya sudah lah, ummik mencoba selaaaw seselaaaaw mungkin. Kalau jodoh tak lari ke mana bukan?

Ummik tetap menjalani hari-hari sebagai gadis baik-baik. Mencoba tidak memikirkan proposal yang tak kunjung datang itu. Mau tanya ke murobi nggak enak, ummik sudah beberapa kali tanya, takut dikira ngebet. Biar bagaimanapun ummik harus sok jual mahal dong ah, jangan keliatan butuh-butuh amat.

Dan setelah seminggu lebih tertahan, akhirnya murobi ummik mengirimkan biodata sang ikhwan aka abi. "Dhita, ini ada yang mau taaruf sama anti. Dia ini hafidz lo, musrif di salah satu pondok di Jogja."

Ummik ter wow wow. Aku hamba nista ini, mau dinikahi oleh seorang hafidz? Ummik juz amma pun tak hapal-hapal, jelas lah tidak sekufu. Tapi dalam hati ummik juga ingat sebuah doa yang sering secara bercanda ummik sampaikan, "Aku gak mau susah-susah hapalan ah, aku mau nikah sama hafidz aja, kan lumayan dia bisa nanggung 7 orang wakakakak" apa ini jawaban dari doa ku ya Allah???

Ummik auto terharu. Dan begitu ummik baca biodata abi, serta ummik lihat foto abi, entah mengapa, ummik merasa ada masa depan ummik di sana.

Sampai rumah, sambil malu-malu, saat ibu bikin kue, ummik sampaikan kalau ada yang mau taaruf. Karena ini taaruf kedua (Ya sebelumnya ummik pernah gagal taaruf, kapan-kapan ummik ceritakan) Ibu jadi lebih selektif, "Mau liat fotonya nggak?"

"Mana?"

Ummik tunjukkanlah foto abi yang lumayan ngeblur dan nampaknya hanya hasil crop-cropan itu, "Kayanya ramah." Itu komentar spontan ibu yang bikin ummik senyam senyum. Tapi sekali lagi gengsi dong kalau langsung mengakui?

"Mosok sih? Katanya dia pendiem banget lo. Terus kerjanya cuma guru ngaji, Mih." Ummik selipkan sebuah tes, apakah dengan pekerjaan itu ibu masih merestui?

"Yo nggak papa. Dicoba aja."

WOW WOW WOW

"Yaudah, nanti ibu yang bilang ke babeh ya."

"Yoh..."



Bersambung

You May Also Like

1 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.