Terapi Inhalasi dan Pemberian Obat Untuk Anak Batuk Pilek, Perlu Nggak Sih?

by - November 09, 2019




ibu-ibu mungkin sepakat sama Ummik. Saat anak sakit rasanya ngeneees banget. Sebagian berharap sakitnya pindah ke ibunya aja. Ummik sih enggak, pengennya sakit anak dipindahin ke koruptor ajaaah. Tapi itu doa jahat ya Bu ibu, finally Ummik berdoa supaya semuanya diberi kesehatan yang paripurna oleh Allah SWT.

Jadi ceritanya beberapa hari ini Salim batuk. Tepatnya seminggu lalu, dua hari batuk, terus sembuh. Nah ini kok kambuh lagi. Anaknya sih Alhamdulillah tetap ceria, merayap cepat bagai tentaranya nggak berkurang, cuma kalau pas batuk dan batuknya continue, dia suka muntah, hiks, sedih deh.

Walaupun sedih, Ummik sih merasa he's ok, batuk kan biasa ya ibu-ibuuu, apalagi ini musim pancaroba. Tapi, Uti bilang, "Eh kasian, itu nafasnya ngik-ngik, takutnya kenapa-napa, dipriksain aja. Soalnya dulu kamu juga gitu, langganan ke dokter sebulan sekali."

Aduuuh, Ummik auto kepikiran dong ya, yaudah deh, yuk cuss ke dokter.

Ummik ke RS JIH yang mirip kaya emoll itu. Bukannya nggaya, tapi menurut Ummik dan keluarga tempat ini nyenengin buat anak, dan yang nunggu juga sih, soalnya kalau laper bisa jajan Parsley hehe.

Setelah menunggu, giliran Salim dipanggil. Di colek-coleklah dadanya pakai stetoskop. Dan hasilnya, kata Bu dokter memang ada suara di paru-parunya, jadi beliau memutuskan agar Salim dinebu atau terapi inhalasi dengan uap. Waaaaw, ini akan jadi pengalaman pertama kami. Selain itu ada obat juga yang harus diminumkan.

Biaya terapi nebu
Ongkos nebu di JIH ini lumayaaan. Ummik belum compare sih dengan RS lain, tapi sebagai informasi, untuk beli maskernya 70k, nebunya 10k, obatnya 50k jadi total 130k. Cumaaa, masker ini nggak harus beli terus kok. Bisa dicuci dan dipakai lagi. Jadi kalau ibu-ibu sudah punya masker, berarti cukup bayar 60k. Worth it nggak?

Reaksi anak
Ummik ceritakan dulu yaa reaksi Salim saat dinebu. Oiya, reaksi tiap anak pasti beda-beda, jadi reaksi bocah ini nggak bisa dijadikan rujukan. Sebagai gambaran Salim ini gampang risi, dia nggak betah pakai macem-macem aksesori, bahkan topi. Nah dinebu ini kan dia harus pakai masker oksigen ya, terus suara alatnya kan kemrosok, walhasil dia nuangiiiiissss...Mbak perawat bilang, waktu nebunya sekitar 15 menit. Oh my God! 15 menit yang menyiksa kalau buat Salim mah. Udah gitu akung sama ummiknya nggak tegaan pula. Dia nangis yang bener-bener nangis nggak suka. Berkali-kali akung bilang, "Udah, kasian."

Dalam hati Ummik, sayang uangnya Akung. Teteup emak-emak peritungan. Tapi ummik juga nggak tega. Tapi kan ini demi kebaikan. Yah, banyak percakapan imajiner di kepala Ummik.

"Obatnya masih banyak, Beh. Sayang nanti nggak maksimal."

Sedikit-sedikit lepas, Ummik nggak mau rugi, jadi Ummik yang pake.

Pas nangisnya agak reda, kasih ke Salim lagi. Nuangiiiiissss lagi. Sampai sekitar 10 menit, dan kami udah bener-bener nggak tega. Sesi nebu pun disudahi.

Hasilnya gimana? Kata Mbak perawat sih nggak bisa langsung tetep harus minum obat, karena batuknya lumayan. Nah kalau Ummik sih mengamati, intensitas batuknya berkurang dan pas bobok juga lebih pules. Belum tau deh besok gimana, semoga semakin baik. Aamiin.

Balik lagi ke masalah, worth it nggak sih? Untuk solusi cepat menurut Ummik not bad kok. Terbukti memang batuknya membaik.

Tapi kalau ibu-ibu baca tulisan dokter Apin niscaya akan berpikir dua kali untuk melakukan tindakan.

Batuk pilek itu biasa. Penyebabnya virus, lama-lama akan sembuh sendiri. Nah obat-obatan yang diberikan pada anak di bawah 2 th sebenarnya punya efek samping kurang baik. Dan nebulizer itu sesungguhnya nggak nyambung buat batuk pilek, karena sebenarnya obat yang digunakan adalah obat asma. Kenapa anak-anak ngerasa lebih nyaman setelah dinebu? Karena mereka nangis, dan biasanya sampai muntah yang mengeluarkan lendir. Di situlah letak leganya. Baca lengkapnya di sini. (Eh baca sampe abis yaaa... Ada ralat untuk yang ini, Ummik dapet insight dari dokter Sita, temanku yang Solehah dan cantek itu)

Ummik bukannya belum pernah baca tulisan dr Apin itu. Tapi menghadapi ujian, anak batuk-batuk, nangis, muntah secara langsung, bikin teori-teori untuk santuy itu langsung buyar. Adanya ya manut aja, yang penting anak segera enakan.

 Ada yang gitu juga nggak?

Nah sampai di rumah, saat sudah mulai tenang Ummik mulai berpikir ulang. Obatnya dikasihin nggak ya? Emak galaw hehe.

Oya, selain batuk, lidah Salim ada putih-putih, kata dokternya kemungkinan alergi, jadi dikasih cetirizine drop. Jadi Salim dapet cetirizine buat alergi, dan puyer buat batuk.

Tapi setelah Ummik baca di brosur cetirizine-- loh kok ga dianjurkan untuk anak under 2 years old karena belum diketahui keamanannya.

Semakin galau lah ummik.

Wah... karena nggak mau ambil resiko, plus setelah baca penjelasan dari dokter Apin di atas obatnya Ummik simpen dulu deh. Nggak jadi diminumkan

Ummik ganti dengan kasih ASI lebih sering dan kasih makan lebih telaten.

Kesimpulannya apa? Yes or No?

Sebagai orang tua kita memang harus punya stok sabar dan ketenangan yang cethaaar ya ternyata, masyaAllah.

Common cold itu wajar. Ditunggu nanti lama-lama pulih sendiri, sambil banyak diminumin, sambil banyak didoain, dijaga lingkungan bersih.

Tapi kalau emak khawatir, butuh teman bicara, ke DSA juga nggak ada salahnya, toh kita bisa sekalian Konsul yang lain-lain kan? Untuk obat, selama anaknya nggak sampai sesak nafas siiih... Nggak usah dulu deh kalau dia masih di bawah 2 tahun. Tapi semuanya kembali lagi ke kebijakan orang tua ya. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik buat anaknya kan. 🤗

Buat emak-emak yang anaknya sedang sakit. Yuk berpelukan, saling menyemangati ya. Semoga anak-anak kita sehat selalu. Sun jauh.


*) Update komen dari dr.Sita

Sedikit nambahin, sebenernya ventolin(yg isiny salbutamol) yg dibilang g nyambung buat bapil krna itu obat asma g sepenuhnya g nyambung jg si mba, krna di jurnal sendiri dibilang salah 1 pilihan obat yg bisa dikasi k anak saat dia batuk adalah salbutamol, krna dia punya efek buat mmperbaiki fungsi silia di saluran napas buat ngarahin lendir yg numpuk jadi lbh gampang buat keluar. Alih2 pake mukolitik atau ekspektoran msh prefer salbutamol. Jd masih reasonable dan nyambung pemberian salbutamol pada batuk di anak kalo merujuk d jurnal. Fyi jurnal ny bisa diliat di "sari pediatri" itu kmpulan jurnal anak indonesia InsyaAllah valid mb 😊 semoga bermanfaat.


Jadi nebu fine ya Bu ibuuu dan masih nyambung kok 🤗


You May Also Like

0 Comments

Diberdayakan oleh Blogger.